Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

San3kalongbm.com Blog Religi, Kitab Pesantren, Kisah dan Tokoh Islam dan Info Update Lainnya

Sudut Pandang I'rob Dalam Kehidupan Dunia Nyata

Sudut Pandang I'rob Dalam Kehidupan Dunia Nyata

Assalamu'alaikum Wr. Wb. San3kalong.com- Kembali hadir masih seputar sebuah kitab yang tipis yang sangat bermanfaat bagi para santri dalam mempelajari tata Bahasa Arab. Kitab tersebut tak lain dan tak bukan yaitu Kitab Jurumiyah. Pada artikel yang lalu sudah admin sampaikan tentang Asal Muasal Kitab Jurumiyah. Tentunya sudah memahami semuanya jika para santri dan sobat  blogger membacanya.

Filosofi I'rob Dalam Kehidupan

Untuk kali ini admin tidak akan mengulang kembali tentang keunikan dan kehebatan Kitab Jurumiyah karangan Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud Ash-Shonhaji alias Ibnu Ajurrum dari Maroko ini. Sebuah kitab kecil dan ringkas namun padat yang berisi kaidah-kaidah ilmu nahwu dan menjadi kitab rujukan para pelajar pemula dalam mendalami ilmu nahwu (kaidah bahasa Arab) di berbagai dunia. Selain ringkas, kitab mungil ini juga mudah dihafal oleh para pelajar khususnya santri. Namun disini admin akan mengungkapkan rahasia dibalik kitab yang kecil dan mungil tersebut dalam Filosofi kehidupan dunia.

Baca Juga :

Jika dikaji lebih dalam lagi kitab Jurumiyah ini memiliki filsafat-filsafat hidup dan nasehat yang sangat berharga bagi setiap santri dan generasi Islam pada umumnya. Filsafat hidup yang termaktub dalam kitab itu sendiri merupakan “hukum” atas suatu kalam atau kalimat dalam ilmu nahwu. Berikut ini admin akan mengulas satu persatu :

Bersatu Kita Menjadi Terhormat ( I'rob Rofa' ) 

Didalam ilmu nahwu, “dhommah” adalah salah satu tanda asli dari tanda-tanda i'rob “ Rofa' ”. Secara lafad kata dhommah berarti bersatu. Sedangkan kata rofa’ itu sendiri berarti tinggi. Maksudnya, bila kita dapat bersatu dengan sesama muslim, dapat menjaga kesatuan dan persatuan, dapat mempererat tali ukhuwah dan tali silaturahmi, bukan tidak mungkin kita akan menjadi umat yang terhormat dan tinggi ( Rofa' ) diangkat derajatnya di antara bangsa dan umat lain ( Marfu' ). Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT : ” Bersatulah kalian pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian berpecah belah” (Ali Imran: 103). 

Sementara untuk mendapatkan derajat tinggi " Rofa " harus memenuhi syarat, di antaranya adalah iman. Firman Allah SWT: “ Janganlah kalian merasa hina dan sedih, padahal kamu tinggi jika kamu beriman " (Ali Imran: 139).

Apabila kita umat muslim ingin mendapatkan kedudukan yang tinggi, terhormat " Rofa' " dan Marfu'. Maka sesuai dalam penjelasan kitab Jurumiyah, Beberapa Isim yang dibaca Rofa', dihukumi Rofa' atau Marfu' yang mempunyai kedudukan tinggi dan terhormat, antara lain : Fa'il ( Pelaku ), Naibul Fa'il ( Pengganti Fa'il ), Mubtada' ( Pioneer ), Khobar ( Informasi ), dan Tawabi' ( Isim yang mengikuti pada isim yang dibaca Rofa' ) ada Na'at, Badal, Taukid dan 'Athof. Masing-masing dari isim yang dibaca Rofa' ini akan admin jelaskan secara rinci di artikel ini.

Filosofi Isim Yang Dibaca Rofa' ( Mendapat Kedudukan Tertinggi )

1. Fa’il ( Aktivis/ Pelaku ) 

Bila kita ingin menjadi orang yang dihargai, tinggi dan tidak terhina, maka hendaklah kita berbuat, bekerja dan berusaha, tidak berpangku tangan atau hanya mengharap belas kasih orang lain. Hanya orang yang aktif dan pro aktiflah ( fa’il ) yang membuahkan karya-karya dan amal dan menjadi terhormat di lingkungannya. Firman Allah SWT: “ Dan katakanlah ( Hai Muhammad ) : Bekerjalah kalian ! sesungguhnya pekerjaan kalian akan dilihat oleh Allah, RasulNya dan kaum mu’minin ” (At Taubah : 105). 

Sabda Nabi Muhammad SAW: اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَىTangan di atas ( pemberi ) lebih baik dari tangan di bawah ( peminta )”.

2. Naib Fa’il ( Mewakili Tugas-Tugas Aktivis ) 

Naibul Fa'il adalah tipe kedua orang yang mendapat derajat tinggi. Meskipun ia berkedudukan sebagai wakil, tapi ia menjalankan pekerjaan yang dilakukan fa’il walau harus menjadi penderita dalam kedudukannya sebagai kalimat. Sebagai contoh dalam hal ini adalah sahabat Ali ra. Beliau pernah menggantikan Rasulullah di tempat tidurnya dengan resiko yang tinggi berupa pembunuhan yang akan dilakukan para pemuda musyrikin Makkah saat Rasulullah berencana melaksanakan hijrah ke Madinah. Contoh lain adalah para huffadz yang diutus Rasulullah untuk mengajarkan agama atas permintaan salah satu suku di jazirah Arab, namun nasib mereka naas dikhianati dan dibunuh para pengundang. Mendengar hal itu, Rasulullah pun membacakan do’a qunut nazilah sebagi rasa ta’ziyah. Dengan do’a dari Rasul tersebut, tentu saja mereka yang wafat mendapat kedudukan mulia di sisi Allah, juga oleh sejarah.

3. Mubtada ( Pioneer ) 

Seorang Mubtada' ( Pioneer ) adalah orang yang pertama melahirkan ide-ide positif kemudian diaplikasikannya di tengah-tengah masyarakat sehingga berguna bagi kehidupan manusia adalah orang yang pantas mendapat derajat rofa’ ( tinggi ). Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda : “ Barang siapa memulai sunnah hasanah (ide positif dan konstruktif) maka baginya pahala dan pahala orang yang melakukan ide (sunnah) tersebut”. Ada pepatah Arab mengatakan demikian :

الفضل للمبتدئ وان أحسن المقتدى

“ Perhargaan itu hanyalah milik orang pertama memulai, walaupun orang yang datang kemudian dapat melakukannya lebih baik ”

4. Khobar ( Informasi ) 

Mereka yang memiliki khobar ( informasi ) itulah orang yang menguasai, tentunya informasi yang positif bukan informsi yang Hoaxs. Demikian salah satu ungkapan dalam ilmu komunikasi. Di dunia ini sebenarnya tidak ada orang yang lebih banyak ilmunya dari seorang lain. Yang ada adalah karena orang itu lebih banyak mendapatkan dan menyerap informasi dari lainnya. Membaca buku, apapun buku itu, sebenarnya kita sedang menyerap sebuah informasi. Dan sebanyak itu informasi yang kita dapatkan sebesar itu pula kadar maqam kita. Informasi dapat kita peroleh melalui berbagai cara, termasuk di dalamnya pengalaman.

5. Tawabi’ Marfu’ ( Mereka Yang Mengikuti Jejak Langkah Orang Yang Mendapat Derajat Tinggi ) 

Barangsiapa yang mengikuti langkah dan perjuangan mereka yang mendapat derajat tinggi, maka mereka akan dihargai baik di mata masyarakat ataupun Agama. Allah berfirman: “ Sungguh dalam diri Rasulullah ada suri tauladan yang patut ditiru bagimu ”. Ayat ini menegaskan kepada kita untuk mengikuti Rasulullah yang telah mendapatkan maqoman mahmuda ( kedudukan terpuji ) di sisi Allah agar kita mendapat hal yang sama di sisiNya. Di samping itu, salah satu orang yang akan mendapat derajat tinggi adalah para penuntut ilmu. 

Allah SWT Berfirman : يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ 

“ Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan mereka yang diberi ilmu dengan beberapa derajat ” (Al Mujadalah : 11). 

Ilmu adalah warisan para nabi, dan siapa yang mengikuti ( tabi’ ) langkah nabi ia akan mendapat kehormatan ( Rofa’ )

Berusahalah, Maka Jalan Akan Terbuka ( I'rob Nasob )

Dalam kaidah ilmu nahwu, di antara tanda nashob dan tanda asli dari nasob adalah fathah. Secara lafdziah, kata nashob bermakna bekerja dan berpayah-payah. Sedang kata fathah bermakna terbuka. Dalam hal ini, maka mereka yang mau bekerja dan berupaya serta berpayah-payah ( nashob ) dalam usaha, maka mereka akan mendapatkan jalan yang terbuka ( fathah ). Sesulit apapun problem yang dihadapi, jika berusaha dan berpayah-payah untuk mengatasinya, maka insya Allah akan menemukan jalan keluarnya.  

Oleh karena itu Allah SWT berfirman : “ Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang berbuat di antara kalian dari laki-laki dan wanita ”. (Ali Imran: 195). Dalam Kitab Diwan As-Syafi’i. Imam Syafi’i pernah menulis bait syair sebagai berikut:

سافر تجد عوضا عمن تفارقه # وانصب فان لذيذ العيش فى النصب

اني رأيت وقوف الماء يفسده # ان سال طاب وان لم يجر لم يطب

  • Pergilah bermusafir, maka anda akan dapatkan pengganti orang yang anda tinggalkan
  • Bersusah payahlah !, karena kenikmatan hidup ini didapat dengan bersusah payah ( nashob ).

  • Sungguh aku menyaksikan mandeg-nya air dapat merusakkan dirinya
  • Namun bila ia mengalir ia menjadi baik. Dan jika menggenang ia jadi tidak baik.

Dalam bait syair ini, Imam Syafi’i ingin menegaskan, bahwa orang yang berpangku tangan dan tidak mau bekerja keras akan menjadi rusak, bagaikan rusaknya air yang tergenang sehingga menjadi comberan yang kotor dan bau. Sebaliknya, bila ia mau bersusah payah dan bergerak maka ia bagaikan air jernih yang mengalir. Indahnya kenikmatan hidup ini terletak pada bersusah payah.

Bahkan al-Quran mengisyaratkan kepada kita untuk tidak berpangku tangan di tengah waktu-waktu senggang kita. Bila usai melakukan satu pekerjaan, cepatlah melakukan hal lain. 

Firman Allah SWT : فاذا فرغت فانصب

“ Dan jika kamu selesai (melakukan tugas), maka lakukanlah tugas lain ( nashob )” (Al Insyiroh: 7).

Baca Juga :

Berpecah Belah Adalah Kerendahan ( I'rob Khofah )

Tanda kasroh dalam ilmu nahwu adalah alamat asli dan salah satu tanda hukum khofadh. Secara harfiah, kata kasroh bermakna pecah atau perpecahan. Sedangkan kata khofadh bermakna kerendahan atau kehinaan. Dengan demikian suatu umat akan mengalami kerendahan dan kehinaan apabila mereka melakukan perpecahan, tidak bersatu dan tidak berukhuwah. Wajar saja bila para musuh menyantap dengan lahapnya kekayaan kaum ( muslimin ) disebabkan mereka tidak mau bersatu dan menjaga persatuan. 

Inilah yang pernah dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad SAW empat belas abad lalu, tatkala beliau menyatakan bahwa suatu saat umat Islam akan menjadi santapan umat lain seperti srigala sedang menyantap makanan. 

Para sahabat bertanya : “Apakah saat itu jumlah kita sedikit ?” 

Rasul menjawab : “ Tidak, justru kalian saat itu menjadi mayoritas, tapi kualitas kalian seperti buih. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari musush-musuh kalian kepada kalian dan Allah akan mencampakkan dalam diri kalian penyakit al-wahan ”. 

Sahabat bertanya: “ apakah penyakit al-wahan itu ?” 

Rasul SAW menjawab : “ Cinta dunia dan takut mati ”.

Dengan penyakit itulah, umat Islam mengalami perpecahan. Sebab yang diperjuangkan bukan lagi agama mereka, tetapi materi dan keduniaan yang pada akhirnya tidak lagi mengindahkan kekompakkan dan persatuan di antara sesama ummat Islam.

Di samping itu sifat buih, seberapa banyak dan sebesar apapun, ia akan terombang-ambing oleh angin yang meniupnya. Itulah tamsil umat Islam yang tidak memperkokoh persatuan.

Hal inilah yang diisyaratkan oleh pengarang kitab Jurumiyah Al-Sonhaji, bahwa penyebab segala isim ( nama ) menjadi makhfudh ( rendah dan hina ) adalah karena tunduk dan ikut-ikutan terhadap huruf khofad ( faktor kerendahan ). Atau dalam istilah nahwu lain, isim menjadi majrur ( objek yang terseret-seret/mengikuti arus ) karena disebabkan mengikuti huruf jar ( faktor yang menyeret-menyeretnya ).

Karena itu, hendaknya ummat Islam selalu menjadi ikan hidup di tengah samudera. Meskipun air samudera terasa asin, namun sang ikan hidup tetap terasa tawar. Sebaliknya, jika ummat ini bagaikan ikan mati, maka ia dapat diperbuat apa saja sesuai keinginan orang lain. Bila diberi garam ia akan menjadi ikan asin dan lain sebagainya.

Kepastian Akan Menimbulkan Rasa Tenang ( I'rob Jazm )

Kaidah lain atau tanda i'rob yang terakhir atau yang terdapat dalam ilmu nahwu adalah, bahwa di antara tanda Jazm adalah Sukun. Secara lafdziah, kata Jazm bermakna kepastian. Sedang kata Sukun berarti ketenangan. Ini mengajarkan kepada kita, bahwa kepastian ( Jazm ) akan melahirkan rasa ketenangan ( Sukun ). Orang yang tidak mendapatkan kepastian dalam suatu urusan biasanya akan merasakan kegelisahan. 

Sebagai contoh seorang remaja yang ingin melamar seorang gadis kemudian tidak mendapatkan kepastian, dia akan mengalami kegelisahan. Demikian juga orang yang hidupnya sendiri, ia tidak mendapatkan ketenangan. Oleh karena itu Allah SWT mengisyaratkan kita agar mempunyai teman pendamping dalam hidup ini agar mendapat ketenangan. Allah SWT berefirman :

ومن آياته ان خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا اليها

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah adalah Ia menjadikan bagimu pasangan dari jenismu ( manusia ) agar kalian merasa tenteram kepadanya ” ( Ar Rum : 21).

Jika admin simpulkan dari artikel diatas hingga menjadi sebuah kalimat yang indah, maka ...

Jika kita menjadi orang yang terhormat ( Rofa' ) yang mendapat kedudukan tinggi derajatnya marfu', Maka sebaiknya kita menjadi seoarang Pelaku ( Fa'il ) atau setidaknya sebagai pengagnti dari Fa'il ( Naibul Fa'il ) Dan menjadi seorang yang mempunyai ide-ide cemerlang ( Mubtada') berusahalah jadi orang yang pandai memberi dan mencari informasi yang valid. Jika memang tidak mampu untuk semuanya maka ikutilah para orang-orang terhormat tersebut, Niscaya kamu akan mendapatkan kedudukan yang hampir sama dengan mereka.

Ikhtiar dan berusaha terlebih dahulu baru tawakal kemudian, itulah jalur ubudiyah yang harus di tempuh. Ikhtiar tanpa Tawakal berarti orang yang sombong, Tawakal tanpa ikhtiar bisa masuk kategori orang pemalas.

Demikianlah yang dapat admin sampaikan, Filosofi Ilmu Nahwu Dalam Kehidupan semoga kita semua bisa memahaminya dan bisa mengimplementasikan di kehidupan kita sehari-hari. hingga pada akhirnya kita akan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat, Amiin. 

Terimakasih, Tetap kunjungi dan ikuti blog San3kalong.com yang selalu update dalam ilmu-ilmu Agama / Religi sebagai modal kita menuju kehidupan yang kekal abadi. Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Posting Komentar untuk "Sudut Pandang I'rob Dalam Kehidupan Dunia Nyata"